User Xperience

Keluhan Guru Saat Digitalisasi Sekolah dan Solusi yang Realistis

4 menit baca

Di banyak sekolah, peralihan ke sistem digital sering dipresentasikan sebagai langkah maju. Secara konsep, itu memang benar. Administrasi bisa lebih rapi, komunikasi lebih cepat, dan data lebih mudah dilacak. Tetapi di lapangan, banyak guru merasakan sisi lain yang jauh lebih melelahkan: pekerjaan lama belum hilang, sementara pekerjaan baru terus bertambah dalam bentuk akun, aplikasi, formulir, dan laporan digital.

Ada setidaknya tujuh keluhan yang paling sering muncul saat sekolah beralih ke sistem digital.

Keluhan pertama adalah pekerjaan terasa dobel. Guru tetap harus mengajar, menilai, mendampingi murid, dan berkomunikasi dengan orang tua. Bedanya, sekarang banyak hal yang dulu cukup dicatat sekali, harus diinput lagi ke sistem. Absensi ditulis, lalu diunggah. Nilai direkap, lalu dipindahkan ke platform. Dokumentasi kegiatan dibuat, lalu diminta lagi untuk laporan digital. Akar masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada proses lama yang tidak disederhanakan lebih dulu. Solusi paling realistis adalah memilih satu sumber input utama. Sekolah tidak perlu meminta guru mengisi format manual dan digital untuk data yang sama, kecuali benar-benar wajib.

Keluhan kedua, terlalu banyak aplikasi untuk fungsi yang mirip. Guru sering harus membuka beberapa platform dalam sehari: satu untuk absensi, satu untuk nilai, satu untuk materi, satu untuk pelaporan, satu lagi untuk komunikasi. Perpindahan kecil ini menguras fokus. Masalah utamanya ada pada sistem yang tumbuh tambal sulam, bukan sebagai satu alur kerja yang utuh. Solusi yang masuk akal bukan menambah aplikasi baru, melainkan menetapkan platform inti sekolah. Kalau satu fungsi sudah bisa berjalan di satu tempat, jangan pindahkan lagi ke kanal lain hanya karena terlihat lebih modern.

Keluhan ketiga adalah masalah teknis yang akhirnya dibebankan ke guru. Internet lambat, akun tidak bisa masuk, data tidak sinkron, atau sistem error saat tenggat mepet. Di atas kertas itu masalah teknis, tetapi di lapangan yang tetap harus menenangkan situasi adalah guru. Akar persoalannya ada pada minimnya dukungan operasional. Sekolah sering punya sistem, tetapi belum punya jalur bantuan yang jelas. Solusi sederhananya adalah menunjuk satu admin teknis internal atau jam bantuan khusus, sehingga guru tidak harus menyelesaikan semua gangguan sendiri di sela-sela mengajar.

Keluhan keempat, pelatihan ada, tetapi waktunya tidak manusiawi. Banyak guru diminta cepat beradaptasi dengan sistem baru, tetapi pelatihannya singkat, bahasanya teknis, dan sering datang ketika beban sekolah sedang tinggi. Akibatnya, guru belajar sambil jalan dan sambil cemas salah input. Akar masalahnya adalah cara implementasi yang menganggap semua guru memiliki kesiapan digital yang sama. Solusi realistisnya bukan menambah workshop panjang, melainkan membuat panduan ringkas berbasis tugas harian: cara input nilai, cara cek data, cara perbaiki kesalahan umum. Guru lebih terbantu oleh panduan praktis 10 menit daripada pelatihan dua jam yang terlalu umum.

Keluhan kelima, guru makin sulit memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Setelah sistem digital dan komunikasi daring berjalan, pesan bisa datang malam hari, revisi bisa diminta kapan saja, dan notifikasi seolah membuat semua urusan harus segera dijawab. Akar masalahnya bukan sekadar teknologi, tetapi hilangnya batas kerja. Solusi yang tidak menambah beban adalah menetapkan etika respons di tingkat sekolah. Misalnya, pesan administratif dijawab pada jam kerja, sementara hal mendesak punya jalur tersendiri. Kebijakan sederhana seperti ini justru melindungi semua pihak.

Keluhan keenam adalah guru merasa dinilai dari kelengkapan input, bukan kualitas mengajar. Dalam masa transisi digital, yang sering terlihat lebih cepat justru laporan, dashboard, dan bukti unggah. Padahal kerja inti guru tetap ada di kelas. Ketika perhatian sekolah terlalu berat ke kelengkapan data, guru merasa tugas administratif lebih dihargai daripada proses belajar murid. Akar masalahnya adalah ukuran kinerja yang terlalu administratif. Solusi paling sehat adalah menyederhanakan indikator internal: cukup minta data yang benar-benar dipakai untuk keputusan, bukan semua data yang mungkin bisa diminta.

Keluhan ketujuh, perubahan datang terlalu cepat tanpa melihat kondisi sekolah. Ada sekolah dengan perangkat memadai dan tim pendukung, tetapi ada juga yang masih bergantung pada ponsel pribadi guru dan koneksi seadanya. Ketika standar digitalisasi diterapkan dengan ritme yang sama untuk semua, beban terasa tidak adil. Akar masalahnya ada pada asumsi bahwa semua sekolah bergerak dari titik awal yang sama. Solusinya adalah transisi bertahap. Tidak semua fitur harus aktif sekaligus. Sekolah bisa memulai dari yang paling membantu pekerjaan harian, misalnya absensi atau komunikasi dasar, lalu berkembang setelah alurnya stabil.

Pada akhirnya, keluhan guru terhadap sistem digital bukan tanda mereka anti-perubahan. Justru sebaliknya, banyak guru sudah berusaha menyesuaikan diri sejauh mungkin. Yang mereka butuhkan bukan tambahan tugas atas nama transformasi, melainkan sistem yang benar-benar mengurangi friksi kerja.

Digitalisasi akan terasa berguna kalau ia menghapus langkah yang berulang, memperjelas alur, dan menghemat waktu guru. Kalau tidak, sekolah mungkin memang tampak lebih modern, tetapi gurunya tetap bekerja dengan napas pendek setiap hari. Dan ketika guru terus bekerja dalam keadaan seperti itu, yang paling dirugikan bukan hanya mereka, melainkan juga kualitas belajar di kelas.

Ingin melihat bagaimana Edula bisa diterapkan di sekolah Anda?