Insight

Sekolah Sedang Berubah, Tapi Guru Makin Kewalahan

3 menit baca

Dalam tiga sampai lima tahun terakhir, dunia sekolah di Indonesia berubah cukup cepat. Cara belajar berubah, cara orang tua memantau anak berubah, dan cara sekolah bekerja juga ikut berubah. Di atas kertas, banyak perubahan ini tampak positif. Sekolah mulai lebih akrab dengan teknologi, komunikasi makin cepat, dan tuntutan mutu pendidikan makin tinggi. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput dibicarakan: guru makin kewalahan.

Bukan karena guru tidak siap berubah. Justru banyak guru berusaha menyesuaikan diri sebaik mungkin. Mereka belajar memakai platform pembelajaran, mengisi berbagai sistem pelaporan, membuat bahan ajar digital, sekaligus tetap hadir untuk murid di kelas. Masalahnya, perubahan datang sangat cepat, sementara beban lama tidak benar-benar berkurang.

Di banyak sekolah, guru hari ini bukan hanya mengajar. Mereka juga harus mengisi data kehadiran, laporan perkembangan siswa, dokumen asesmen, modul ajar, administrasi proyek, hingga laporan kegiatan sekolah. Sering kali, satu pekerjaan harus ditulis dalam beberapa format berbeda. Ada yang untuk arsip sekolah, ada yang untuk dinas, ada yang untuk kebutuhan platform digital. Dari luar mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dikerjakan setiap minggu, itu menguras energi yang besar.

Bayangkan seorang guru SD di sekolah negeri. Pagi hari ia menyambut murid, mengajar beberapa mata pelajaran, menenangkan anak yang sedang sulit fokus, lalu saat jam istirahat membuka ponsel untuk membalas pesan orang tua di grup kelas. Setelah pulang sekolah, ia belum benar-benar selesai bekerja. Masih ada nilai yang harus diinput, perangkat ajar yang harus dirapikan, dan laporan yang harus dikirim sebelum malam. Esok hari siklus itu dimulai lagi.

Teknologi, yang semestinya membantu, kadang justru menambah lapisan pekerjaan baru. Guru dituntut cepat beradaptasi dengan aplikasi rapor, platform belajar, formulir digital, presentasi interaktif, sampai dokumentasi kegiatan untuk media sosial sekolah. Tidak semua sekolah punya dukungan infrastruktur yang sama. Tidak semua guru juga mendapat pelatihan yang cukup. Akibatnya, banyak guru belajar sambil jalan, sering dengan perangkat pribadi dan koneksi internet seadanya.

Di sisi lain, ekspektasi orang tua juga meningkat. Ini sebenarnya wajar. Orang tua sekarang lebih terlibat dalam pendidikan anak, lebih cepat mendapat informasi, dan lebih ingin tahu perkembangan belajar sehari-hari. Tetapi dalam praktiknya, guru sering menjadi titik temu dari semua harapan itu. Anak harus berkembang akademik, karakter harus baik, tugas harus jelas, respons harus cepat, dan masalah kecil di kelas pun diharapkan segera ditangani. Guru akhirnya bukan hanya pendidik, tetapi juga admin, operator, komunikator, bahkan kadang seperti layanan pelanggan yang selalu siaga.

Situasi ini bukan salah guru, bukan pula salah orang tua semata. Sekolah sedang berada di masa transisi. Semua pihak ingin pendidikan lebih baik, tetapi sistemnya belum selalu memberi ruang yang manusiawi bagi mereka yang menjalankannya setiap hari. Kita ingin guru kreatif dan dekat dengan murid, tetapi waktu mereka habis untuk layar dan dokumen. Kita ingin pembelajaran bermakna, tetapi perhatian guru pecah ke banyak arah.

Yang sering terlupakan, kelelahan guru pada akhirnya juga berpengaruh pada suasana belajar anak. Guru yang terlalu lelah akan lebih sulit hadir penuh di kelas, lebih sulit punya waktu untuk memikirkan pendekatan belajar yang segar, dan lebih sulit menjaga tenaga emosional untuk menghadapi kebutuhan murid yang beragam. Padahal, inti sekolah tetaplah pertemuan manusia: guru dan murid.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita melihat ulang apa yang benar-benar penting. Tidak semua hal harus dibuktikan dengan laporan panjang. Tidak semua komunikasi harus dibalas seketika. Tidak semua tuntutan digital berarti kemajuan bila justru menjauhkan guru dari tugas utamanya: mengajar dan mendampingi anak belajar.

Sekolah memang sedang berubah. Itu tidak bisa dihindari. Tetapi di tengah perubahan itu, guru juga perlu dijaga. Sebab kalau guru terus diminta menanggung semuanya, kita berisiko punya sekolah yang tampak modern di permukaan, tetapi kehabisan tenaga di dalamnya.

Ingin melihat bagaimana Edula bisa diterapkan di sekolah Anda?